Cerita Sex My Boss!!! – Part 14

Cerita Sex My Boss!!! – Part 14by adminon.Cerita Sex My Boss!!! – Part 14My Boss!!! – Part 14 MY BOSS PART I Namaku Sheila, menjadi sekretaris seorang CEO sebuah perusahaan adalah impianku sejak duduk di bangku kuliah. Aku berpikir itu adalah salah satu cara agar bisa mengenal pimpinan perusahaan lebih dekat dibanding posisi yang lainnya. Selain itu, aku punya kesempatan lebih besar untuk mengenal makhluk-makhluk kalangan atas karena […]

tumblr_nkt0xk2E081up9txto1_540 tumblr_nkt0xrVXFk1up9txto1_540 tumblr_nkt0y2fpMx1up9txto1_1280My Boss!!! – Part 14

MY BOSS PART I

Namaku Sheila, menjadi sekretaris seorang CEO sebuah perusahaan adalah impianku sejak duduk di bangku kuliah. Aku berpikir itu adalah salah satu cara agar bisa mengenal pimpinan perusahaan lebih dekat dibanding posisi yang lainnya. Selain itu, aku punya kesempatan lebih besar untuk mengenal makhluk-makhluk kalangan atas karena sebelum menemui pimpinan, mereka pasti akan berhadapan dulu dengan sekretarisnya. Tentu saja orang-orang yang akan ditemuinya bukan orang sembarangan.

Peluang itu dapat aku gunakan untuk menggaet seorang yang kaya bukan? Haha. Salah satu batu loncatan besar ketika aku menginginkan jalan pintas untuk menjadi kaya. Dan disinilah aku, sebentar lagi akan diwawancara secara langsung oleh CEO Wijaya Company. Entah kenapa pihak HRD langsung menyuruhku untuk menemuinya. Sepertinya calon bos ku ini sangat selektif memilih pegawainya. Atau dia tertarik padaku? Hah. Aku pernah dengar desas-desus tentang bos ku ini. Seorang player. Tentu saja aku tidak boleh tergoda dengan orang ini. Niatku bukan untuk dipermainkan lelaki. Tetapi untuk mencari suami kaya! Ingat itu!

Setelah melewati pintu ini, aku meyakinkan diri untuk bersikap sebaik mungkin. Penampilan pun sudah kubuat sebaik mungkin. Rambut cokelat tembaga dengan blow di ujungnya, blazer hitam dan blouse putih berenda di dalamnya. Juga rok di atas lutut 5 cm. Cukup sopan bukan? Tentu saja. Aku tidak mau dicap sebagai perempuan murahan atau penjilat atau penggoda di penampilan pertamaku. Walaupun ada sedikit niat terselubung di sana. Yah sedikit saja sih. Tapi kupikir perempuan yang mengandalkan tubuhnya untuk mendapatkan pekerjaan hanyalah orang bodoh saja. Mereka hanya dijadikan ikon, pajangan, atau aksesoris perusahaan.
Sedangkan aku benar-benar mengutamakan kualitas ketika melakukan sesuatu.

Aku tidak ingin dianggap perempuan seperti itu. walau kuakui, kepercayaan diriku sangat tinggi dengan fisikku yang seringkali membuat lelaki sadar menjadi mabuk seketika. Atau kakek tua berharap menjadi muda 40 tahun, saat melihatku.

Masuk suara berat di dalam sana menyuruhku menghadap setelah kuketuk pintu. Jantungku berdebar. Tentu saja itu normal. Sepercaya diri apapun diriku, saat-saat menegangkan seperti ini perutku selalu mulas dan jantungku berdebar. Rasa takut itu ada, dan aku harus segera menyingkirkannya ke jurang bawah sadarku agar bisa bersikap normal.

Selamat pagi Pak! kuberikan senyum terbaikku pada lelaki yang sedang menghadapkan badannya ke luar gedung. Apa yang dia lakukan? Kenapa sangat tidak sopan. Padahal ada seseorang di sini, tapi dia tidak melirikku sama sekali.

Duduklah dan perkenalkan dirimu. Ucapnya angkuh.

Nama saya Sheila, ucapku. Aku memaparkan segalanya, keahlianku, pengalamanku, dan semua yang kuyakin dapat jadi pertimbangannya untuk menerima lamaranku.

Setelah itu hening. Calon bos ku benar-benar tidak ada niat menatapku sama sekali. Ini benar-benar menyebalkan. Bahkan dia tak merespon apa yang kujabarkan sedari tadi.

Pak. Apakah pemandangan di luar sana lebih menarik dari saya? tanyaku. Peduli amat tentang tatakrama dan kesopanan. Bahkan dia sama sekali tidak tertarik melihat wajahku.

Aku menunduk dan sedikit mengumpat saking kesalnya kepada calon bos ku. Dan berhasil. Lelaki itu membalikan badannya, memperlihatkan wajahnya yang membuatku sedikit menahan napas. Alis tebal, mata elangnya, jambang tipisnya dan rahangnya yang kokoh. Dia tampan! Dan senyumnya itu, oh.. sepertinya aku butuh oksigen!

Apa kau sedang berusaha menggodaku? seringaiannya membuat jantungku berdetak kencang, detakan yang berbeda dengan saat aku masuk ke ruangan ini.

Maaf Pak. Um.. maksud saya, bukankah interview itu biasanya saling berhadapan? Ah maksud saya. . bahkan Bapak tidak melihat wajah saya. Saya pikir.. itu sedikit um.. tidak sopan. sial. Kenapa suaraku bergetar.

Lelaki itu semakin menunjukan seringaian mautnya. Langkahnya kian mendekat, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, oh tidak dia semakin dekat. Di langkah ke empat dia duduk di sisiku, menatapku dengan sorot mata tajam, ke atas, ke bawah ke atas ke bawah. Tunggu! Kenapa tatapannya seperti manusia mesum yang hendak menerkam mangsanya?

Jangan bilang aku akan dijadikan korban pelecehan seksual oleh makhluk tampan ini. Walaupun aku sedikit rela sih. Tunggu! ini salah! Aku di sini untuk mendapat pekerjaan! Bukan untuk dijadikan alat pemuas seksual!

Tubuhku beringsut, menjauhkan jarak di antara kami. Namun dia malah memegang tanganku, sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telingaku.

Kau memang selalu menggairahkan dimanapun aku melihatmu. Tubuhku menegang, mendengar dia berbisik dan menghembuskan nafasnya yang menyapu daun telingaku dan sedikit ke pipi dan leherku. Otakku bekerja dengan cepat, mencerna kata-katanya dan segera memahami apa yang dia katakan. Apa dia pernah bertemu denganku sebelumnya?

Kau! Lelaki mesum! Apa kau pikir aku akan menyerahkan tubuhku kepadamu begitu saja huh? secara sadar aku meraih map yang kubawa dan memukulkannya ke wajah tampan lelaki itu. aku berdiri hendak pergi dari tempat sialan ini. peduli setan dengan pekerjaan!!

Bodohnya, lelaki itu malah terkekeh dan menarikku sebelum aku sempat melangkah, menarik tubuhku ke pangkuannya. Duduk di antara paha kirinya dan tangannya memeluk pinggangku. Kepalanya mendongak. Seringaian itu muncul kembali.

Besok jam 9. Kutunggu di sini. Kau pasti pernah mendengar bahwa CEO Wijaya Company bukan orang yang mentolerir keterlambatan bukan? tangannya mengelus punggungku yang untungnya masih dalam balutan blouse dan blazer.

Coba bayangkan apabila tanganya itu mengelus punggung polosku tanpa sehelai benang pun menghalanginya. Kukira itu akan sangat.. ahh. Pikiran kotor sepertinya mulai menguasaiku. Aku tidak boleh terjebak ke dalam pesonanya. Atau aku hanya akan berakhir menjadi simpanan lelaki ini. Aku pernah mendengar tentang bos yang terlibar affair dengan sekretarisnya. Ini tidak boleh terjadi. Impianku bukan menjadi simpanan atau mainan bos. Tetapi jadi istri orang kaya! Dan apa katanya tadi? Aku diterima bekerja? Oke itu bagus. Tapi bekerja dengan lelaki mesum ini? Sepertinya bukan ide yang baik. Tapi mencari jodoh lelaki tampan dan kaya sepertinya bisa dijalankan kembali. Ah terlalu banyak kata tapi yang kuulang dari tadi.

Pak. Saya diterima bekerja? Sebagai sekretaris Bapak? tanyaku memastikan. Takut kalau telingaku salah mendengar perkataannya.

Ya. Tentu saja. Apa kau tidak mau? tangannya mengelus pahaku perlahan, yang terlapis rok tentunya. Bagus, kalau dia berani berbuat lebih dari itu. kupastikan ujung high heelsku akan berakhir di bola matanya.

Tentu saja saya mau pak. Jawabku sambil meringis. Ku raih tangannya yang berusaha memasuki dalam rokku dan menggenggam jemarinya.

Tapi dengan satu syarat. Lanjutku menampilkan senyum paling menawan yang paling kupunya. Dan dia merespon dengan menelan ludah yang membuat jakunnya naik turun. Huh. Pesonaku memang selalu berhasil. Tepi sedetik kemudian dahi lelaki itu mengernyit.

Hey. Siapa bos di sini? Kau berusaha bernegosiasi denganku hm? kini tangannya berpindah ke wajahku, dan tangan kanannya mengelus rambut cokelatku.

Terserah. Saya juga tidak terlalu membutuhkan pekerjaan ini. Aku mencoba menjaga image ku dengan tak terlalu menampakan keinginanku. Padahal sesunguhnya pekerjaan ini benar-benar hal yang sangat kuharapkan. Belum lagi sewa kontrakan yang nunggak tiga bulan. Kulepaskan tangannya yang melingkar di tubuhku. Berusaha berdiri dan menjauh darinya. Terlalu lama dekat dengannya benar-benar membuatku takut. Hh. Takut terjadi hal yang mengerikan.

Baiklah. Apa syaratnya? hm sepertinya caraku berhasil.

Tidak ada kontak fisik yang menjurus kepada hal-hal yang intim selama saya jadi bawahan anda. Saya tidak mau jadi sekretaris yang mengandalkan fisik untuk menggoda bos saya.

Dia terdiam. Wajahnya datar. Emosinya tak dapat ditebak.

Oke. Kemudian dia tersenyum, senyuman jahat yang biasa ada di televisi ketika pemeran antagonis akan membunuh lawannya.

Tapi itu tidak berlaku bila kedua belah pihak menginginkannya. Atau ada faktor-faktor yang tidak terduga yang membuat kita melakukannya.

Apa dia bilang? Apa dia akan berusaha menggodaku nantinya? Ah ini buruk. Memangnya aku mau dengan dia? Huh. Jangan harap. Aku tidak akan mengalah untuk seseorang lelaki mesum seperti dia. Aku sudah begitu berpengalaman mengatasi lelaki-lelaki mesum yang berkeliaran di hidupku sejak aku remaja. Dan mereka tidak pernah berhasil.

Maaf Pak. Saya tidak..

Cukup. Sekarang kau boleh pergi. Dan sampai jumpa besok. Pungkasnya. Dia pergi meninggalkanku terpaku. Pintu itu tertutup dengan anggunnya. Suara bedebamnya seolah mengejekku yang sedang berdiri seperti orang bodoh di ruangan ini. Ini salah! Harusnya aku yang pergi duluan! Aku yang meninggalkannya pergi! Kenapa malah terbalik?
***
Tbc

Author: 

Related Posts