Cerita Sex The PE Teacher – Part 13

Cerita Sex The PE Teacher – Part 13by adminon.Cerita Sex The PE Teacher – Part 13The PE Teacher – Part 13 (SIDE STORY) The Customer Service Act 1 Seperti hari hari yang lainnya, hari ini pun tidak ada bedanya. Kulirik sekilas nomor urut di papan LED kecil di pojok ruangan, sudah berapa puluh Nasabah yang mengajukan komplain, menanyakan cara ganti PIN (hari giniii??? hufff…) sampai nasabah iseng yang hanya sekedar […]

multixnxx-Teen slut Megan Rain is on spring break, a-0 multixnxx-Teen slut Megan Rain is on spring break, a-1 multixnxx-Teen slut Megan Rain is on spring break, a-2The PE Teacher – Part 13

(SIDE STORY)

The Customer Service

Act 1

Seperti hari hari yang lainnya, hari ini pun tidak ada bedanya.
Kulirik sekilas nomor urut di papan LED kecil di pojok ruangan, sudah berapa puluh Nasabah yang mengajukan komplain, menanyakan cara ganti PIN (hari giniii??? hufff…) sampai nasabah iseng yang hanya sekedar ingin kenalan denganku.

Rani yang mejanya tepat berada di sebelahku sudah menunjukkan gelagat kesal..
Dia yang paling tidak sabaran saat melayani keluhan nasabah nasabah yang agak lemot..

“Gini ya Paaak caranyaaaa, Kan ada tombol tombol tuh yang dipinggir layarnyaaa.. iya kan? Nah pilih yang ini Paaak..
Dah paham??”

Kulihat wajah si bapak tua yang seumur umur mungkin baru sekarang ini memiliki kartu ATM..
“Eeheeemm! Ran..”
Rani yang melihat mataku langsung paham kodeku, kita sebagai CSR harus melayani Nasabah dengan ramah, karena bisa saja diantara puluhan nasabah yang datang tiap harinya selalu ada Secret Buyer, Quality Control yang menyamar jadi nasabah, sengaja menanyakan hal hal sepele yang tidak pada umumnya ditanyakan kebanyakan nasabah..

Biasanya kalo ada Nita, saat sudah hampir tengah hari kami bisa bergantian istirahat di Pantry sambil digoda godain satpam atau OB genit di kantor..
Tapi sudah beberapa hari ini sejak Nita kecelakaan, aku dan Rani bekerja ekstra mengcover nasabah nasabah yang datang.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.15, hanya bapak tua itu saja yang masih anteng manggut manggut mendengarkan Rani yang sudah mulai memerah wajahnya menerangkan prosedur penggunaan kartu ATM, Hehehe..

Kubuka hapeku, kukirim bbm ke suamiku di rumah..
Ya suamiku memang sedang berstatus pengangguran, perusahaan asuransi tempatnya bekerja melakukan pengurangan di bagian SDM, dan sialnya suamiku salah satu yang terkena PHK.

Kami menikah pada usia yang cukup muda, aku 21 dan Agung 25 tahun, anakku yang pertama sekarang sudah berumur 7 tahun, sedangkan putri bungsuku berumur 3,5 tahun, Praapta anakku yang sulung selalu menanyakan ke papahnya kenapa mamahnya selalu pulang malam..

Suamiku selalu beralasan kalo “mamah sibuk ngurus duit di bank dek..”
Kenyataan sebenarnya.. aku selalu menunda nunda waktu kepulanganku.. kadang aku memang sedang sibuk membantu teller dalam tutup buku tapi itu tidak setiap hari.
Kadang aku nongkrong dengan temen temen kantor di cafe sekitar Dago atau Riau.
Tapi akhir akhir ini aku lebih sering menghabiskan waktu Re**l Gym yang terletak di dekat Taman Jomblo.
Kulampiaskan kepenatanku pada barbel barbel dan treadmill,
Rasa frustrasiku akibat beban sebagai penopang utama ekonomi rumah tanggaku hilang sesaat apabila sedang membakar lemak di atas treadmill, kupasang headset dan kuputar lagu lagu dalam playlistku keras keras..
Tidak kuhiraukan sapaan genit atau ajakan untuk kenalan dari cowo cowo yang badannya Lebay otot ototnya dan merasa kepedean bakal selalu mendapatkan mangsanya di Gym.
David Guetta mengalun kencang mengiringi irama lariku di treadmill, tiba tiba kurasakan ada yang menepuk nepuk pelan bahuku dari belakang.

‘Apaan si nekat banget mau ngajak kenalan!’
‘Eh.. jangan jangan istrukturnya yang memanggil..’

Kupelankan tempo treadmill nya sampai ke angka nol, lalu kucopot headset dari kupingku, kulihat siapa gerangan orang nekat yang berani ganggu aktifitasku!

“Teh? Teteh yang waktu itu ikut jenguk Nita ya di rumah sakit??”

End of 1st Act

The Customer Service

2nd Act

Suara suara gaduh terdengar dari arah ruang makan merangkap dapur di lantai bawah..
Belakangan ini aku dan suamiku mencoba bertukar peran antara pemberi nafkah dan ibu (bapak) rumah tangga.

Sebenarnya aku merasa kasihan dengan Mas Agung..
Dia merupakan suami idaman setiap wanita,
Tidak pernah minta macem macem,
Pengertian dengan karir yang telah kubangun sebelum kami menikah.
Baik dan lembut.. hmm terlalu baik malah..

Sedangkan aku sendiri..
di umurku yang sekarang sudah 32 tahun, banyak yang memuji ku dalam hal keawetan berumah tangga.
Disaat banyak teman disekelilingku rumah tangganya hancur karena satu dan lain hal, keluarga kami masih utuh selama hampir 11 tahun.
Mungkin benar pendapat orang orang yang kalo ditanya:
“Lebih sayang mana? Anak atau Pasangan anda?”
Aku tidak akan ragu untuk menjawab anak!

Kudapati diriku masih saja mematut diri di depan kaca..
Di usiaku yang sudah kepala 3 ini aku cukup bangga dengan penampilanku, tidak jarang ada nasabah yang mencoba kenal lebih dekat atau sekedar mengajak makan siang..
Bahkan tidak jarang ada yang mengirim makanan atau bunga,
Tapi semuanya itu kuanggap bonus dari karunia yang diberikan Tuhan kepadaku.
Sampai saat ini aku masih bisa menolak secara halus ajakan nasabah nasabah itu.
Karena aku sangat menyayangi anak anakku, ya.. merekalah alasan utama diriku masih mempertahankan rumah tanggaku sampai sejauh ini.

Tapi entah kenapa.. pertahananku lumpuh tadi malam..
Laki laki itu bisa membuka sistem pertahananku dengan cerdik,
Auranya menularkan keceriaan yang belum pernah lagi kudapatkan..

Bahasa tubuhnya yang selalu menuntut perhatian penuh dari lawan bicaranya membuatku tak bisa mengalihkan perhatian ku barang sedetik saat ngobrol dengannya..

Sentuhan sentuhan ringan di pundak, lengan yang aku yakin tanpa ada kesengajaan darinya bisa mengirim aliran listrik yang membuat darahku berdesir.

Tanpa kusadari aku sudah meminta nomer hape lengkap dengan pin bbm nya..
“Ndri.. what have you done..”

Hapeku yang tergeletak di kasur berbunyi.

“Teh, tar malem jadi mau nge-gym lagi?”

Aku hanya bisa diam terpaku ke layar 6 inchi yang berpendar dihadapanku..

‘Apa yang harus kukatakan!??’
‘Oiya ada sport bra yang baru kubeli minggu lalu pasti kelihatan bagus deh kalo aku pake di depannya..’
‘What am i thinking!”

“Iya Ki.. jadi ko.. see you there yaa..”

Yak.. akhirnya kukirim… takut takut aku menoleh ke arah pintu,
Gerak gerikku persis seperti maling jemuran yang sedang mengendap endap melihat situasi sekitar..

Tak brapa lama datang lagi balasan dari laki laki itu..
“Siaaaaap teeeeh! Hehehe, tar pulang dari rumah Nita aku nyusul ya ke gym, semangaaaat yaa teh kerjanyaaa!”

Ini hanya janjian biasa ko, nothing special ndri!
Berkali kali kuingatkan diriku
Berkali kali pula terbayang sentuhan tangannya di punggung bawahku saat dia memberi jalan kepadaku di depan pintu Gym..
Letaknya begitu sempurna!
Tidak terlalu ke atas seakan menggiringku berjalan,
Tidak terlalu ke bawah seakan dia ingin mengatakan kalo dia seorang Gentleman..

Kudapati diriku masih saja tersenyum di depan kaca riasku..

Tidak kusadari suara langkah di tangga menuju kamar tidurku,

“Mih.. kamu kenapa.. ko senyum senyum sendiri depan kaca?? Dapet jackpot ya mih? Hehehe”

Hampir kujatuhkan hapeku saking kagetnya!
Cepat cepat kuselipkan hapeku ke dalam tas, lalu kuambil blazerku yang tergantung di balik pintu.

“Gapapa pih, aku senyum garagara lucu liat kamu pake celemek gitu, mirip chef Juna deh hihihi!”
Kucium pipinya lalu berjalan menuju pintu..

“Oiya Pih, aku nanti pulangnya agak telat ya, soalnya ada acara kantor euy di Pasteur.. gapapa ya pih?? Bye piih!”

End of 2nd Act

Author: 

Related Posts