Cerita Sex Lima Setengah Bagian Tiga Enam – Part 3

Cerita Sex Lima Setengah Bagian Tiga Enam – Part 3by adminon.Cerita Sex Lima Setengah Bagian Tiga Enam – Part 3Enam – Part 3 BAB I Lima Setengah Bagian Tiga Musik keras yang keluar dari komputer di ruangan itu tidak terdengar jelas. Namun yang pasti jelas adalah pemandangan yang ada di pojok ruangan. Lidya dan Gusti sedang berciuman, atau lebih teptnya, Lidya sedang mencium Gusti dengan ganas. Gusti sendiri hanya bisa menerima sambil mencoba bernafas […]

tumblr_nvw70r8CkY1udu28ko1_1280 tumblr_nvw814mv7W1tv716so1_1280 tumblr_nvw814mv7W1tv716so2_1280Enam – Part 3

BAB I
Lima Setengah Bagian Tiga

Musik keras yang keluar dari komputer di ruangan itu tidak terdengar jelas. Namun yang pasti jelas adalah pemandangan yang ada di pojok ruangan. Lidya dan Gusti sedang berciuman, atau lebih teptnya, Lidya sedang mencium Gusti dengan ganas. Gusti sendiri hanya bisa menerima sambil mencoba bernafas normal, tapi tidak bisa. Tangan kanan lidya menarik tangan kiri Gusti dan mengarahkannya ke buah dada seblah kanan. Gusti yang hanya pernah melihat adegan di film-film porno hanya bisa meremas tak beraturan, keras, dan kencang. Lidya memang tidak memiliki buah dada yang besar, namun remasan Gusti cukup membangkitkan gairahnya.
Lama kelamaan gusti mulai bisa mengimbangi. Dan pada saat itu, Lidya membuka resleting jeans Gusti dan langsung melorotkannya. Tonjolan kemaluan Gusti tercetak jelas di celana boxer yang ia kenakan. Dan itu pun tak lama. Sedetik berikutnya bagian bawah Gusti sudah tak tertutup sehelai benang pun.

Mbak, ah, ini mau ngapain? Gusti gelagapan bertanya. Udah, diem aja, dari dulu saya suka liatin kamu, ganteng, kekar, udah lama saya bisa mimpiin bisa, aahh, Gus, gede banget. Komentar Lidya ketika dia memegang penis Gusti. Gila, anak SMA ko bisa segene gini, tapi kamu udah pernah ginian belum? Tanyanya kemudian. Belum mbak, paling cuman onani doang. Jujur Gusti menjawab. Bagus, berarti saya yang pertama. Oke, kamu diem sayang, saya udah siap. Dan blesss…. penis Gusti kini berada di dalam vagina Lidya. Tanpa membuka rok, hanya melepas CD dan keduanya dalam keadaan berdiri.
Aaahh, gede banget kontol mu Gus, enakkk… Rintih Lidya. Ahh, mbak, enak, memek mbak juga, aahhhh, kalo tau ginian enaknya kayak gini, udah dari, aaahhhh, duluuuu …. Gusti merasa keeanakan. Mbak, gak kuat mbak, mau keluar. Tapi Lidya membentak sambil telunjuk kirinya menekan bagian dekat lubang anus Gusti, Tahan, saya masih pengen ngerasain kontol gede kamu. Udah, kamu tiduran, biar saya yang di atas.

Lidya kemudian menidurkan Gusti, dan kembali memasukan vaginanya. Sleppp. Aaaahhhh, gede banget Gus, memek saya penuh, hah hah hah, gila. Gusti hanya bisa merem melek, tapi kali ini dia tidak tinggal diam, tangannya mengangkat baju seragam Lidya, dan langsung mengangkat BH nya ke atas. Kedua tangannya mulai memainkan kedua puting Lidya, diremasnya kedua buah dada yang menggantung bebas itu. Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak pernah disangka Lidya, Gusti memasukkan jari tengah kirinya ke dalam anus Lidya. Aaaaaaaahhhh, Gus, jangan, saya belum pernah di situ, hey, stop, aaahhhhh. Tapi Gusti tak mau tau, dia sangat menikmati sampai lupa diri, tapi akhirnya Mbak, udah mbak, gak kuat. Yaaa, saya juga dah mau keluar, bareng Gus, hah hah, hmmmmppfff, keluaaaarrrrrr. Gusti menyemprotkan spermanya banyak sekali ke dalam vagina Lidya, dan Lidya sendiri menekukan badannya, kejang dan tegang, terasa oleh Lidya cairan sperma Gusti masuk ke dalam rahimnya. Untung dia lagi dalam program. Kalo gak celaka, ini masa subur dia.

Setelah beres-beres dan menggunakan pakaian, Lidya berkata Jangan panggil saya mbak, saya baru lulus SMA 2 tahun lalu, panggil nama aja. Dan kamu kurang ajar, pantat saya ini masih perawan ting ting, untung tadi gak dalem.
Gusti cuman menyeringai, Ya maaf, habisnya mbak, eh, lo juga sih, beneran dah, gua nyerah. Tapiii, mmm … Lidya memandang Gusti, Tapi apaan? Tanyanya. Boleh kapan-kapan lagi gak? Gusti bertanya. Hmmmm, boleh gak ya? Lidya berkedip manja, dan mencium Gusti, keduanya kembali berciuman untuk beberapa saat. Boleh. Jawab Lidya. Dalam hati Gusti merasa bahagia, bisa dapetin perempuan secantik Lidya. Cantik dengan kulit kuning langsat bersih dan mata tajam yang menggoda. Bibir tipis nan sensual, juga badan yang kecil namun padat.

==========================================
Gila, ngapain aja kalian bedua di atas? Bima bertanya ketika Gusti sudah bersama mereka lagi.
Gue udah bukan perjaka lagi pren. Jawab Gusti dengan muka merah dan bibir sumringah. Bangsat lo Gus, tau gitu gua yang kalah tadi. Mbak Lidya, kasir cantik model gitu. Omel Bima. Udin mengomentari, Udahlah, bukan rejeki. Bima mengusap dada. Tapi tetep, tau gitu gue tadi ngalah.
Dan merekapun pulang ke rumah masing-masing. Dua dengan rasa kecewa dan iri, satu dengan rasa puas teramat sangat.

==========================================
Ma, bisa bantuin ga? WA dari Revi ke Ima siang itu.
Kenapa say? Ima membalasnya.
Ajarin Fisika dong
Gak bisa oon. Saya aja minta tolong mas Gio. Eh, tanya dia aja
Gpp nih saya nanya dia?yakin?
Yakin, gpp kok. Mas Gio gak bakalan mau ama kamu
Heh, dasar, gini-gini juga termasuk cewek incaran di sekolah ya
Ya, incarannya mang Encang, xixixixixi
Imaaaaaaaa……

==========================================
Jam 3, pusat elektronik Bandung, Rian berjalan pelan diantara counter komputer. VGA Card. Game yang kemaren dia beli membutuhkan VGA yang lebih bagus dari yang dia pakai. Sial. Gerutu Rian. Uang tabungan kepake lagi nih.
Brukkk. Dia menabrak seseorang. Empuk.
Yan, ngapain di sini?
Vi? Lah, kamu juga ngapain?
Ngisi pulsa modem. Sekalian sambil nyari mouse. Yang di rumah udah lari entah kemana. Kamu ngapain? Jawab Revi. Rian menjawab kalo dia nyari VGA card. Dan mereka sepakat untuk nyari bersama. Setelah dapet, keduanya memutuskan untuk makan dulu di lantai atas. Tapi langkah Revi terhenti. Sesosok laki-laki berdiri mematung dihadapannya.

Revi?
Ka?
Sehat?
Sehat, oya, kenalin, Rian, pacar Revi. Revi berbohong. Rian sendiri hanya diam melongo.
Ingatan Revi kembali ke satu tahun silam. Ketika dia masih memiliki kisah dengan orang dihadapannya. Bagaimana orang ini menjadi orang pertama yang melumat bibir indahnya. Bagaimana dia sering main ke kostan orang ini hanya untuk memberikan bibir, telinga dan leher juga sepasang buah dada yang bulat padat.

Masih teringat ketika Revi dan dia berciuman, lama, lama sekali. Dan rangsangan yang diberikan padanya membuat dia tidak tahan. Revi pernah orgasme dari permainan orang ini di kedua buah dadanya. Revi masih ingat, bagaimana dengan lembut, dia memainkan puting Revi dengan lidahnya. Bagaimana pada suatu hari, ketika keduanya bertemu setelah sebulan tak bertemu, bergumul dengan dahsyat di atas ranjang, peting seperti biasanya, namun kali itu, saking bernafsunya, rok Revi sudah melorot. Celana dalamnya pun sudah hampir turun. Kalau bukan ada telepon masuk, pasti Revi bakal ditelanjangi bulat-bulat di hari itu.

Dan Revi pun ingat, terakhir kali ketika mereka melakukannya. Ketika dia membuat Revi mengoral penisnya. Membuat Revi merasakan benda itu keluar masuk mulutnya. Melintasi bibirnya yang indah. Ketika orang itu menyelipkan penisnya diantara bongkahan dada Revi yang besar dan bulat, ketika spremanya muncrat ke wajahnya, dan ketika Revi harus membersihkan sisa-sisa dari sperma dengan menjilati pebis orang itu.

Dan di hari itu pula, Revi dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang mengaku tunangan orang itu. Brengsek. Kenangan yang lama disimpan keluar lagi.

==========================================
Mas, hmmm, bentar, udah dulu, aaahhh, geli. Stop! Ima menyingkirkan kepala Gio dari buah dadanya. Dengerin dulu bentar ih. Gio mendengus, Iya, kenapa?
Revi minta diajari Fisika. Dan Ima bilang mas pasti mau.
Oh, gak apa apa, asal ada bayarannya aja. Jawab Gio.
Ih, ko gitu. Apa bayarannya? Tanya Ima.
Hmmmm, emutin punya mas.
Ogah ah, minta aja ntar ke Revi. Tukas Ima.
Oh, oke lah kalo gitu, tar mas minta ke Revi, sapa tau dia mau. Jawab Gio sambil nyengir kuda.
Iiiihhh, mas ko gitu, nyebelin deh. Udah, sini, emut lagi dada Ima.
Ah, bilang aja kali Ima lagi pengen. Gio menimpali sambil tersenyum.
Iya, emang, pengen diemut, yang keras. Tandain lagi ya mas. Ima menjawab pelan, tertunduk malu.
Dengan senang hati malaikatku. Dan Gio pun melahap kedua buah dada Ima, menyupanginya satu persatu.

==========================================
Yun,lg dimana. SMS dari Bima. Di rumah, kenapa? Kangen ya?
Ya nih, kangen bgt. Bima menjawab.
Kangen apanya nih? Yuni ato lubang Yuni? Tanya Yuni.
Semuanya Yun. Badan kamu juga, wangi tubuh kamu, dan sepongan kamu. Mantap.
Ini orang jorok banget deh, iiiiihhhh. Hhe. Yasud,tar malem km maen ke rmh , Yuni tunggu.
Bima tersenyum. Kejadian tadi malam antara Gusti dengan mbak Lidya membuat dia terangsang berat. Sampai rumah dia langsung onani. Mikirin mbak Lidya yang cantik dan menggairahkan. Siang ini tadinya dia berencana ke SPA untuk menyalurkan keinginan si otong. Tapi dia lebih memilih Yuni, bisa diapain aja, segalanya, dan tanpa biaya alias gratis. Cantik, manis, baik, dan nikmat.
Segera dia bangun dari tempat tidur, bersiap untuk mandi, tapi langkahnya terhenti di sebelah tangga, dia mendengar suara ibunya di telepon. Keras, lantang dan mengancam. Secepat kilat dia memalingkan muka. Muak. Kenapa mereka memutuskan menikah, melahirkan dia, kalo akhirnya hanya menyia-nyiakannya.

==========================================
Hal yang sama berlaku pada Udin. Bermain DotA semaleman dengan Rian sepertinya kurang mengalihkan pikiran. Setelah Onani tadi malam, dilanjutkan pagi dan siang tadi, entah sore ini mau diterusin atau tidak, dia memutuskan menghubungi salah satu mantan pacarnya. Siapa tau bisa sakecrot dua kecrot pikirnya.
Yang ada dipikirannya adalah Icha, dan langsung dia menghubunginya. Beruntung sekali Icha mau diajak ketemuan. Lagi bosen juga, katanya. Dan malam ini mereka bakal ketemu di tempat mereka jadian dulu. Mall di jalan Merdeka.

==========================================
Jadi itu orangnya? Tanya Rian kepada Revi. Mereka kini duduk bersebrangan di salah satu meja di food court itu. Iya, dia. Jawab Revi. Maaf tadi ngaku-ngaku kamu pacar Revi. Dan tolong, jangan diungkit-ungkit ya? Revi muak ama si bajingan itu.
Gak perlu minta maaf, malah kalo emang iya pacar beneran saya pasti senang. Pikir Rian, ah Revi, betapa indahnya dirimu. Iya, nyantey aja kali, kaya ke siapa aja. Udah, gak usah dipikirin. Kita nonton aja yu? Sapa tau kamu bisa lupa.
Rian yang bayarin ya?
Yeeeee, ni anak. Iya deh.

——Bersambung——

Author: 

Related Posts